MENUMBUHKAN PARADIGMA TEOLOGIS (NILAI-NILAI KETUHANAN) DI TENGAH GUNCANGAN PANDEMI COVID-19
MENUMBUHKAN PARADIGMA TEOLOGIS (NILAI-NILAI KETUHANAN)
DI TENGAH GUNCANGAN PANDEMI COVID-19
Kemunculan virus corona menghebohkan dunia, penyebarannya yang begitu cepat menjadi bencana besar dan mengerikan. Terhitung sejak awal merebaknya di akhir Desember 2019 di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kini tealah menyebar cepat di 28 negara. Bencana covid-19 saat ini menjadi fakta global yang mengguncang kaesadaran teologis (nilai-nilai ketuhanan) banyak orang. Perkembangan kontaminasi virus corona memang sangat kompleks dan akibatnya korban kematian dan pasien yang positif covid-19 begitu memprihatinkan di area kehidupan. Secara persentase memang kecil namun yang bencana ini melahirkan kepanikan global ialah karena sebaran dan jumlah penjangkitnya yang cukup besar dan merata di seluruh dunia. Tidak ada satu benua pun yang bebas dari pandemiini. Bahkan territorial suci, seperti Kota Mekah yang menjadi pusat peribadatan umat islam diseluruh dunia juga ikut terinfeksi dan diisolasi sementara akibat wabah corona.
Diantara yang paling terdampak penyebaran kasus covid-19 ialah kaum agamawan yang kini di garda terdepan mempresentasikan fenomenaini secara teologis (aspek ketuhanan). dalam islam, penyebaran wabah covid-19 ini dihubungkan dengan penyakit tha’un seperti kondisi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Namun, yang membuat umat terguncangialah ketika ada praktik keagamaan yang mulai dilarang pemerintah. Sedikit banyak kebijakan ini melahirkan benturan teologis karena umat dilarang sementara berkumpul pada praktik ibadah seperti shalat berjamaah bahkan juga sam agama selain islam juga harus mentaati regulasi pemerintah. Padahal dalam sejarah islam kegiatan keagamaan umat dengan jumlah massa besar berkali-kali sempat tidak terlaksana karena situasi abnormal. Krisis politik dan wabah menyebabkan umrah dan haji tak terlaksana puluhan kali, diantaranya kasus pencurian hajarul aswad oleh kelompok Qaramithah pada tahun 930 M dan wabah kolera di Mekkah pada Tahun 1837, 1846 dan 1850. Situasi itu jelas mengguncang kesadarn teologis umat islam.
Sketsa historis menunjukkan bahwa kesesuaian teologis agama akan cenderung dihadirkan pemuka agama secara tidak autentik pada kondisi wabah virus corona. Tak mengherankan jika pada situasi wabah sekarang ini penafsiran agama yang cenderung bersifat aplikatif-negatif di masyarakat dan menyerang umat lain menjadi tersemai. Muncul fatwa yang sentral bahwa covid-19 merupukan kutukan dari langit atau tentara Allah yang menyerang orang kafir. Agama sejatinya memberikan pembebasan dan kebaikan tapi kerap terjerumus pada ketamakan, kebencian dan ambisi yang dibungkus oleh retorika yang masih belum jelas kevalidannya. Pada situasi ini tentu diperlukan cara pandang agama yang lebih moderat yaitu menghadirkan konsep teologis yang lepas dari pengaruh sekularistik dan politik. Konsep teologi yang fanatisme kerap mengaitkan Tuhan sebagai pemilil otoritas penyebar ketakutan dan kecemasan. Tugas wakil Tuhan akhirnya membungkam dan menjagal manusia dengan tafsir politis. Model pemahaman seperti inilah kerap terjadi pada Jamaah Islamiyah Kaum Wahabi dan lain-lain yang bersikap berlebihan dan cenderung menyesatkan pihak lain secara terbuka. Maka diperlukan cara pandang baru yang moderat agar tidak tertutup pada paradigm teologis yang kolot.
Islam mengajarkan sikap rasional ketika berhadapan dengan wabah. Seperti yang dijelaskan dalam Hadis Shahih Bukhari Muslim , bahwa jangan pernah masuk ke wilayah yang sedang terserang wabah dan jangan keluar jika sudah berada di dalamnya. Hadits Nabi tersebut jelas mengajak penanganan untuk tidak menambah resiko ditengah wabah corona. Islam juga mengajarkan sikap mentaati pada pemerintah dan disiplin pada komando yang telah diregulasikan. Didalam Alquran seperti Surah An-Nisa ayat 59 dan Surah Al-Anfal ayat 46 , menjelaskan sikap untuk taat pada pemerintah dan tidak berselisih paham sehingga umat menjadi aman. Mengacaukan peran pemerintah melalui pandangan agama yang sinis bahkan disertai tindakan anarkis jelas bertentangan dengan pesan autentik islam.
Dalam membangun paradigma teologis (aspek ketuhanan) diperlukan pemikiran rasional dan pemahaman nilai-nilai ketuhanan yang sentral-humanis dalam merespons wabah ini secara bersama. Agama harus bersatu padu dengan pemerintah melawan penyakit yang bisa mengganggu peradaban kehidupan dan perlu dibangun pemahaman agamis-pluralis yang semua agama bersikap aktif dalam melahirkan ekspresi bersama menyelesaikan problematika covid-19 dengan rendah hati, empati, humanis dan emansipatif.
Suip
BalasHapus